Pelaksanaan Ujian Nasional di Sulawesi Selatan, untuk SMA/SMK yang berlangsung 22 Maret dan SMP, 29 Maret ( baca liputannya di halaman 9 edisi ini ) tahun ini boleh dibilang lebih baik dibanding tahun lalu. Meski terdapat sedikit kendala dengan adanya sekolah yang lembaran jawabannya kurang, dan terdapat kekeliruan dalam soal, yang terjadi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di paket 55 nomor 22, dengan adanya dua jawaban yang sama, namun itu adalah kesalahan tehnis yang terletak di percetakan, bukan pada Pelaksana UN. Seperti yang dikuatkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Drs Machmud BM, MPd, saat membuka pelatihan Penyusunan Pembelajaran dengan cara Tematik bagi para Kepala Sekolah se-Kecamatan Tallo, Makassar.
Walikota Makassar, Ir Ilham Arief Sirajuddin setelah melalukan peninjauan baik pada UN SMA/SMK dengan mengambil sampel SMA 5, SMK1 dan SMA8, demikian di tingkat SMP, menyimpulkan bahwa pelaksanaan UN terutama di wilayahnya berjalan lancar. ‘’Walaupun masih ada masalah, ada kekurangan lembaran jawaban, ada jawaban yang sama, tetapi pada dasarnya semuanya bisa ditangani. Situasi proteksi dari lingkungan sekolah untuk terjadinya kecurangan – kecurangan, bisa diminimalkan,” katanya kepada wartawan yang menyertai kunjungannya ke sekolah – sekolah. Mengenai kekurangan lembaran jawaban sudah diantisipasi.
Memang menurut Walikota Makassar itu, pelaksanaan UN belum sebaik apa yang diharapkan, karena kendalanya yang masih dihadapi di lapangan, masih berulang. Itu juga yang terjadi tahun – tahun lalu. Namun dia berharap Ujian Nasional mampu meningkatkan kualitas lulusan, yang dilihatnya semakin hari semakin bagus.
Apa yang disampaikan baik Walikota Makassar maupun Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, berdasarkan pemantauan tim Fajar Pendidikan ke – sekolah – sekolah mulai dari SMA/SMK sampai kepada pelaksanaan di tingkat SMP.
Seperti yang disampaikan Kepsek SMK 1 Makassar, Drs Wahab Wahabbe, tidak ada kendala dalam pelaksanaan UN. “Mungkin karena kordinasi kami yang lancar ke Dinas Pendidikan, memberikan informasi yang jelas dan berulang – ulang tentang jumlah peserta,” ucapnya.
Sekedar perbandingan, siswa SMK yang mayoritas perempuan, yang ikut UN tahun ini sebesar 319 orang. Mestinya 326 orang, tetapi tidak hadir 7 orang. SMK1 membina tiga jurusan, Akuntansi, Administrasi Perkantoran dan Penjualan. Jumlah keseluruan siswa SMKI yang dibina 69 Guru, sebesar seluruhnya 1029 orang.
Wahab optimis, hasil UN sekolahnya bisa mencapai 100 persen. Tahun lalu tingkat kelulusanya 99 persen, dari 333 siswa. Hanya 2 orang yang tidak lulus.
Rasa optimisme yang sama, disampaikan Kepsek SMA 8 , Dra Hj Masyita, MSi yang saat itu didampingi Dra Asniwati Hafied, MSi, Ka TU/Sekretaris Pelaksana UN SMA 8. Berdasar dari perkembangan UN dari tahun ke tahun di sekolah yang selalu meningkat, Masyita mentargetkan tingkat kelulusannya mencapai 90-an persen, dari 201 peserta UN. “Harapan kami 100 persen,” tuturnya. Tahun lalu, tingkat kelulusannya memang 80 persen.
Kepsek SMA Makassar Raya, Ketua MKKS SMA Swasta, Drs Fatahuddin, berifikiran lebih maju lagi. Dia tidak berfikir target kelulusan 100 persen siswanya dalam UN, namun berfikiran bagaimana siswanya bisa tembus Perguruan Tinggi. “Otomatis harus lulus UN,” katanya yang saat itu didampingi Ketua Yayasan Makassar Raya, Drs Andi Riadi Bachtiar.
Jumlah peserta UN SMA Makassar Raya tahun ini sebesar 79 orang, dengan menggunakan 5 ruangan. Mestinya 90 orang, namun 11 orang yang tidak hadir.
Menurut Fatahuddin, faktor yang ikut memperlancar pelaksanan UN tahun ini, karena Pengawas sudah mengetahui bagaimana UN berlangsung, sehigga siswa bisa bekerja dengan baik. Tidak sama dengan tahun lalu, Pengawas sampai masuk di kelas sehingga siswa jadi tegang. ‘’Kalau seperti itu, mereka tidak bisa berfikir, belum ulangan takut tidak lulus,” tutur Fatahuddin.
Pengawas independent menurut Ketua MKKS SMA Swasta itu, sudah menyadari bahwa sudah ada pengawas di kelas. Yang dipantau Pengawas Independent adalah hal – hal yang kurang beres. ‘’Kalau saya, tidak apa ujian nasional, yang penting jangan jadi penentu kelulusan. Karena ada proses belajar di kelas. Itu yang harus dihargai, satu bidang studi tidak lulus, sama saja tidak lulus. Ibaratnya satu jam menghapuskan kegiatan setahun,” tuturnya. Sehingga dia menyarankan, sebaiknya sekolahlah yang penentu kelulusan. Sebab di sekolah, ada pengembangan etika, moral,dll.
Dia pun menyarankan, Pemerintah juga ikut turun meninjau sekolah swasta terutama yang kurang memadai. Sebab sekarang, katanya, sudah tidak ada perbedaan lagi antara sekolah ‘’plat kuning’’, dengan sekolah ‘’plat merah’’.
SMA 16 Tancap Gas
Meski pelaksanaan UN berjalan lancar, Kepsek SMAN 16 Makassar, Drs Ali Muchsin, belum bisa tenang, sebelum keluar hasil UN. Sekolah yang terlatak di jantung kota Makassar, berada di titik nol kilometer itu, menelan ‘’pil’’ pahit pada UN tahun lalu. Jumlah siswanya yang tidak lulus tahun lalu lumayan besar, hampir separuh dari jumlah peserta UNnya yang sebesar 246 orang. Kejadian itu memang belum menjadi tanggung jawabnya, lantaran baru menjelang 2 tahun dipimpinnya. Sehingga Ali Muchsin tak perlu lagi menunggu waktu tiga bulan atau 6 bulan untuk menggenjot siswanya belajar. Mulai awal tahun pelajaran, siswa yang baru saja naik di kelas 3, langsung tancap gas, baru bisa pulang pada pukul 15.00, pada mata pelajaran yang di UNkan. ‘’Mulai awal tahun pelajaran jam belajar siswa, khusus untuk mata pelajaran yang di UNkan, sudah ditambah 2 jam’’, tuturnya yang saat itu didampingi Ka.TU SMA 16 Makassar.
Tahun ini jumlah peserta UN SMA 16, sebesar 464 orang, karena hampir semua yang tidak lulus tahun lalu, ikut mengulang. Ada yang sudah mendapatkan ijazah paket B, ada yang sudah kuliah, bahkan ada sudah bekerja sebagai Pramugari, tetap masih mengulang. ‘’Karena ingin mendapatkan ijazah SMA,” katanya.
Di SMKN7 Makassar, UN diawali dengan memberikan briefing kepada Pangawas. Bahkan menurut Wakasek Bidang Kurikulum SMK7, Drs Djaiman, 3 hari sebelum UN, Pengawas dikumpulkan untuk diberi sosialisasi.
Jumlah siswa SMK7 peserta UN tahun ini, sebesar 242 orang. Membina 4 jurusan, Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pekerjaan Sosial dan Rekayasa Piranti Lunak ( Tehnik Informasi Komunikasi ). Tahun lalu, tingkat kelulusannya 98 persen dari jumlah peserta 260. Yang 2 persen memang tidak ikut. SMK7 Makassar bahkan tercatat peringkat 7 Nasional untuk tingkat kelulusan UN. Padahal statusnya bukan Standar Nasional, lebih – lebih standar Internasional.
Djaiman menargetkan bisa 100 persen, seperti terjadi pada tahun lalu dan 2 tahun sebelumnya. Kepada di tahun 2009, hanya 98 persen ? ‘’Karena pengaruh standar kelulusan yang naik,” ucapnya.
Tahun ini pihaknya akan mengejar prestasi sama dengan tahun 2007 dan 2008. Karena itu, tiga bulan sebelum UN diadakan pengayaan, dan pemantapan untuk 4 mata pelajaran, yaitu, mata pelajaran Produktif, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika.
Sementara di SMA 19, yang sangat pinggiran, jumlah pesertanya 115 orang. Meski paling jauh dari kota, sekolah yang kini dipimpin Drs Rahman T, MPd, ini, tidak bisa diremehkan. Dari 120 siswa yang ikut UN tahun lalu, hanya 3 orang yang tidak lulus. Rahman berharap bisa meningkat lagi. Untuk itu, 6 bulan sebelum UN, siswanya pun belajar hingga sore.
Demikian di SMA 9. Menurut Kepsek SMA 9, Drs Iswan Abdul Latief, dengan penambahan jam pelajaran sebanyak 72 jam perminggu yang dimulai sejak Agustus 2009, banyak siswanya sakit. Ada yang muntah-muntah, demam, sakit perut, dll. Bagi Iswan, lebih baik sakit sebelumnya, dari pada di ujian tidak lulus. Namun tak seterusnya siswanya mengalami kondisi tersebut. Pihak sekolah pun ikut menjaga kesehatan siswanya, mengajari cara mandinya, memperhatikan waktu makannya.
Tahun ini, peserta UN di SMA 9 sebanyak 219. Iswan berharap seluruh siswanya bisa sukses. Tahun lalu saja yang tidak sehebat gembelengannya dengan tahun ini, tingkat kelulusannya mencapai 95 persen. Hanya 11 orang siswanya yang tidak lulus. Dia menilai pelaksanaan UN tahun ini hampir sempurnah, termasuk tidak ada kendala dengan kemacetan jalan yang menghambat anak – anak pergi ujian. ‘’Polantas subuh-subuh sudah berdiri di perempatan,” katanya.
Di Perguruan Nasional, siswa sejak awal ditanamkan untuk tidak mengejar kunci-kunci jawaban, yang kenyataannya menyesatkan. Menurut Ketua Yayasan Perguruan Nasional, Drs H.Syarifuddin Saleh, MSi, siswa ditanamkan rasa percaya diri. Sehingga saat ujian, benar-benar tenang, karena fokus menjawab soal-soal. Disini pun diadakan pendalaman 4 bulan sebelum UN. Hasil UNnya tahun lalu memang sangat baik, diatas 90-an persen. Sehingga Syarufuddin pun menargetkan lebih baik dari tahun sebelumnya.
Harap UN Tetap Ada
Meskipun sempat terkendala masalah anggaran yang terlambat, namun pelaksanaan UN tingkat SMA dan SMP yang diikuti sekira 226.649 siswa yang ada di Sulsel, berjalan lancar dan aman. Pelaksanaan UN untuk tingkat SMA berlangsung dari tanggal 22-24 Maret dan untuk tingkat SMP tanggal 29 Maret-1 April. Semntara UN susulan dilaksanakan seminggu setelah jadwal yang telah ditetapkan.
Seperti UN yang berlangsung dibeberapa sekolah yang ada di Makassar, baik SMA/SMK dan SMP, di SMKN 5 Makassar, UN sempat terjadi masalah pada hari pertama akibat adanya lembar jawaban komputer(LJK) yang cacat. Akibatnya, pengawas harus bolak-balik untuk mengambil lembar LJK yang kurang di dinas pendidikan kota Makassar. Di SMK Kartika juga terjadi hal yang sama bahkan kekurangan LJK mencapai 100 lembar untuk 6 ruangan. Hal ini dikeluhkan, Drs. Muh Rum, Kepala SMK Kartika.
“(UN) di sekolah kami berjalan dengan aman dan lancer, para siswa juga tenang. Hal ini karena para siswa telah dipersiapkan sejak bulan Januari lalu untuk menghadapi UN,” ujar Muh Rum.
Berbeda dengan yang terjadi di dua sekolah tersebut, pelaksanaan UN di SMAN 5 Makassar berjalan sangat lancar karena tidak ada hambatan teknis, seperti kekurangan LJK ataupun soal tertukar.
Kendati pelaksanaan teknis UN di Sulsel khususnya di Makassar tidak seluruhnya berjalan lancar, tetapi dianggap sudah sukses. Tinggal melihat hasilnya pada saat pengguman nanti. Selain itu, sejumlah sekolah yang ada di Makassar berharap, UN tetap ada untuk tahun depan. Karena mereka menganggap UN merupakan salah satu parameter siswa. “Saya berharapa UN tahun depan tetap ada, karena merupakan alat ukur secara nasional, untuk melihat standar mutu dan mampu memotivasi siswa untuk belajar,” harap Drs. HA. Abd. Fattah, M.Pd, Kepala SMAN 5 Makassar. (ana/sry/iqb)

Walikota Makassar, Ir H. Ilham Arief Sirajuddin, didampingi Kadis Pendidikan Kota Makassar, Drs H. Machmud BM, MPd, meninjau pelaksanaan UN SMU di SMA5, SMK 1 dan SMA 8 Makassar. Gambar direkam saat berada di SMK 1 Makassar.