Inco Buka Program Beasiswa 2010

* Siapkan Dana Rp 1 M Untuk Sulsel

Komitmen PT International Nickel Indonesia (Inco) untuk memajukan pendidikan memang tidak main-main. Hal tersebut dibuktikan melalui program beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa, khususnya di tiga provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Hal itu dikatakan Iskandar Siregar, Media Relation PT Inco pada sosialisasi Program Beasiswa PT Inco untuk Komunitas 2010 di Hotel Horison, Sabtu, 7 Agustus lalu. Kegiatan ini dihadiri para rektor dan pembantu rektor bagian kemahasiswaan sejumlah perguruan tinggi di Sulsel. Selain itu, Inco juga mengundang pengurus badan eksekutif mahasiswa (BEM) se-Sulsel.

Menurut Iskandar, pemberian beasiswa ini merupakan salah satu implementasi komitmen PT Inco dalam memajukan pendidikan. PT Inco menyiapkan dana sekira Rp 1 miliar untuk program ini. Beasiswa tersebut, katanya, diberikan khusus kepada pelajar dan mahasiswa kurang mampu tetapi berprestasi. “Mudah-mudahan ini bisa memberi manfaat yang luas,” kata Iskandar.

Dalam sosialisasi tersebut, beberapa peserta mengusulkan agar PT Inco menetapkan kuota kepada masing-masing perguruan tinggi. Selain itu, agar setiap perguruan tinggi juga diberikan wewenang merekomendasikan mahasiswanya untuk mengikuti seleksi penerimaan beasiswa ini.

Seperti yang diungkapkan Arsyad Habe, Pembantu Direktur III Politeknik Negeri Ujung Pandang. Menurutnya, sebaiknya pihak perguruan tinggi harus aktif dalam program beasiswa ini. Salah satu contohnya, yaitu mengusulkan mahasiswanya sebagai calon penerima beasiswa.

“Ini untuk menjaga agar penerima beasiswa betul-betul layak menerima. Ada mahasiswa yang memang berprestasi tapi selalu membuat ulah di kampus. Jadi sebaiknya ada rekomendasi dari pihak perguruan tinggi,” ujar Arsyad.

Selain itu, ia juga mengusulkan agar pihak PT Inco tidak men-transfer beasiswa langsung ke rekening mahasiswa. Sebaiknya pihak perguruan tinggi dilibatkan juga dalam hal pemberian beasiswa. Alasannya, biasa terjadi mahasiswa menerima beasiswa padahal disaat itu yang bersangkutan sedang menjalani skorsing dari kampus.

Menanggapi usulan tersebut, Sekretaris Komite Beasiswa PT Inco, Sohra mempersilahkan bagi perguruan tinggi yang akan merekomendasikan mahasiswanya mengikuti proses seleksi. “Silahkan pak, seandainya universitas bisa aktif, itu luar biasa. Banyak universitas yang tidak mau ambil pusing,” kata Sohra.

Namun ia mengatakan, untuk pemberian beasiswa, PT Inco memang sengaja men-transfer langsung ke rekening mahasiswa, tidak lagi melalui pihak universitas. Karena, kata Sohra, mahasiswa penerima beasiswa sering mengadu uang beasiswa mereka sering di-“sunat” oleh pihak perguruan tinggi.

Sohra juga mengungkapkan, program beasiswa PT Inco tidak menerapkan sistem kuota kepada setiap perguruan tinggi. Program beasiswa ini tidak membedakan perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS). “Tidak ada dibilang universitas ini harus 100 (penerima, red). Banyak PTS lebih bagus dari PTN,” katanya.

Terkait masalah anggaran beasiswa yang disiapkan, baik Sohra maupun Iskandar enggan menyebutkannya secara detail. Menurut Sohra, sesuai dengan beasiswa tahun-tahun sebelumnya, anggaran untuk Sulsel mencapai Rp 1 miliar. Namun, katanya, tidak menutup kemungkinan anggaran tahun ini akan di atas nilai tersebut.

PT Inco telah menentukan kriteria bagi peminat yang akan mengajukan permohonan beasiswa. Di antaranya, untuk pelajar SD, SMP, dan SMA, nilai rata-rata keseluruhan rapor minimal 8,0. Untuk mahasiswa program Diploma, S1, dan S2 nilai indeks prestasi komulatif (IPK) minimal 3,00. Sedangkan untuk mahasiswa program S3, nilai IPK minimal 3,25.

Selain kriteria tersebut, PT Inco juga menetapkan lima poin untuk latar belakang calon penerima beasiswa. Pertama, membutuhkan bantuan pendanaan (dibuktikan dengan surat keterangan penghasilan dari instansi yang berwenang, atau surat keterangan dari RT/RW dan Kepala Desa bagi Non Instansi). Kedua, membutuhkan bantuan pendanaan karena kondisi tanggungan keluarga (dibuktikan dengan melampirkan fotokopi kartu keluarga yang dilegalisir).

Ketiga, diprioritaskan bagi putra-putir daerah operasional kontrak karya PT Inco. Keempat, tidak sedang atau akan mendapat beasiswa dari sumber lain. Dan kelima, diprioritaskan bagi yang memiliki prestasi membanggakan. (sry)

PEKERJA ANAK ADALAH EKSPLOITASI TERHADAP ANAK

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

PEKERJA ANAK ADALAH EKSPLOITASI TERHADAP ANAK

Oleh : Wiwin Edwin

<< Tanda Tangan yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Sahrul Yasin Limpo sebagai tanda menolaknya pekerja anak, dengan ini pula pemerintah Sulawesi Selatan menolak pekerja anak dan Gubernur memberikan perhatiannya yang sangat besar terhadap pekerja anak, apalagi pekerja anak yang putus sekolah.(foto: Edwin/Fajar Pendidikan)

Dalam kehidupan sehari-hari kita disibukkan dengan berbagai pekerjaan. baik pekerjaan yang berasal dari kehidupan pribadi kita, maupun kehidupan umum yang ada di masyarakat sekitar kita. Namun, pernahka kita mempelajari atau memperhatikan kehidupan sehari-hari kita? Baca tulisan ini lebih lanjut

Momentum untuk Membangun Karakter Bangsa

KETGAM : Ratusan siswa-siswi mempersembahkan tari-tarian dalam upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dipusatkan di Kabupaten Bantaeng, Minggu 2 Mei lalu.

Momen Hardiknas diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan karakter. Sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran untuk hidup berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis.

LAPORAN : Sriyanto-Bantaeng

Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan. Pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat pada umumnya.

Demikian pesan Mendiknas Muhammad Nuh yang dibacakan Gubernur Syahrul Yasin Limpo pada upacara peringatan Hardiknas, di Lapangan Olahraga Kabupaten Bantaeng, Minggu (2/5) lalu. Meski kota Butta Toa Bantaeng diguyur hujan, namun pelaksaan upacara berjalan hikmat dan lancar. Peringatan Hardiknas mengambil tema “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”.

Pada upacara tersebut hadir Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan RI Muh Amari, Wakapolda Brigjen Pol Syahrir Kuba, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Patabai Pabokori, para kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, para bupati/wali kota di Sulsel, sejumlah kepala sekolah, para guru dan ribuan siswa di Kabupaten Bantaeng.

Dalam sambutannya, Mendiknas menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian upaya membangun karakter bangsa. “Saya ingin menyampaikan seperti yang pernah disampaikan oleh bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang pentingnya pendidikan karakter. Beliau menyatakan bahwa pembangunan watak atau karakter adalah alat penting jika ingin membangun bangsa Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik,” kata Mendiknas.

Keseriusan anak-anak menjadi kuncinya, menjadikan anak berperilaku jujur. Itu sebabnya ujian nasional, dikampanyekan UN jujur dan berprestasi. Akhirnya, dilakukan evaluasi-evaluasi atau ujian yang mengembangkan mutu siswa dalam menghadapi UN. “Dari hasil pemetaan inilah kita memperbaiki anak-anak dalam kualitas pendidikan anak kita, kualitas dunia pendidikan kita,” kata Nuh.

Menurut Mendiknas, ada tiga hal penting dalam peringatan Hardiknas tahun ini. Pertama, terkait dengan momentum untuk merenungkan, merefleksikan diri pada perjalanan dan langkah panjang yang telah dilalui. Ini berkaitan dengan cita-cita awal lahirnya Hardiknas, sebuah cita-cita yang patut dilestarikan dengan semangat kepahlawanan.

Makna yang kedua, upaya untuk intropeksi diri dari apa yang telah dilakukan. Menjalankan program pendidikan untuk menatap masa depan yang lebih baik dan menjamin pelayanan pendidikan. Makna ketiga, Mendiknas mengajak semua pihak menprespektifkan apa yang telah dan sedang dilakukan untuk masa depan yang lebih baik. Seperti yang dicantumkan dalam konstitusi dalam upaya mencerdaskan bangsa secara utuh.

“Peringatan Hardiknas bukan hanya diperingati untuk kepentingan seremonial belaka tapi justru lebih mengembangkan semangat. Peringatan Hardiknas harus terus menerus dikumandangkan dan dilakukan rekontruksi,” kata Nuh. Peringatan Hardiknas kali ini dapat membangkitkan rasa optimisme, percaya diri, terus berusaha. Karena melalui rasa optimisme, percaya diri, semangat itulah sesungguhnya cikal bakal bangsa ini dibangun.

Tanamkan Perilaku Jujur

Sementara sambutan Jaksa Agung Hendarman Supandji yang dibacakan oleh Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Muh Amari, mengajak semua elemen untuk menanamkan perilaku jujur sejak dini kepada generasi penerus bangsa. Menjadikan program sekolah yang bisa membentuk karakter siswa agar berlaku jujur dengan menciptakan kantin kejujuran.

“Kejujuran pasti akan menyelamatkan seseorang. Kita sebetulnya perlu dihidupkan kembali, ditanamkan di hati terutama kepada generasi penerus yang akan menjadi pimpinan bangsa,” kata Jaksa Agung. Agar menjadi bangsa yang maju, bermartabat, adil dan sejahtera, seluruh masyarakat senantiasa menjaga diri dengan cara berkata dan berbuat jujur.

Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Sulsel salah satu provinsi yang berhasil membangun kantin kejujuran. Sejumlah sekolah menerima penghargaan pemenang pengelola kantin kejujuran dan juga pemenang lomba mars kantin kejujuran. Penghargaan ini diberikan seusai upacara berlangsung.

Forum Pelajar Fajar Pendidikan

Kami Fajar Pendidikan sebagai media pendidikan, akan membentuk forum pelajar. Yang akan melakukan kegiatan-kegiatan pendidikan dan hal positif lainnya, seperti beberapa pelatihan (jurnalistik) dan membuat kegiatan pendidikan.

download persyaratan dan biodata :  http://www.4shared.com/document/D78yK-pL/Biodata.html  atau link web : fpfp.4shared.com

UN Tidak Masalah, Namun Sebaiknya Tidak Jadi Penentu

Pelaksanaan Ujian Nasional di Sulawesi Selatan, untuk SMA/SMK yang berlangsung 22 Maret dan SMP, 29 Maret ( baca liputannya di halaman 9 edisi ini ) tahun ini boleh dibilang lebih baik dibanding tahun lalu. Meski terdapat sedikit kendala dengan adanya sekolah yang lembaran jawabannya kurang, dan terdapat kekeliruan dalam soal, yang terjadi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di paket 55 nomor 22, dengan adanya dua jawaban yang sama, namun itu adalah kesalahan tehnis yang terletak di percetakan, bukan pada Pelaksana UN. Seperti yang dikuatkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Drs Machmud BM, MPd, saat membuka pelatihan Penyusunan Pembelajaran dengan cara Tematik bagi para Kepala Sekolah se-Kecamatan Tallo, Makassar.

Walikota Makassar, Ir Ilham Arief Sirajuddin setelah melalukan peninjauan baik pada UN SMA/SMK dengan mengambil sampel SMA 5, SMK1 dan SMA8, demikian di tingkat SMP, menyimpulkan bahwa pelaksanaan UN terutama di wilayahnya berjalan lancar. ‘’Walaupun masih ada masalah, ada kekurangan lembaran jawaban, ada jawaban yang sama, tetapi pada dasarnya semuanya bisa ditangani. Situasi proteksi dari lingkungan sekolah untuk terjadinya kecurangan – kecurangan, bisa diminimalkan,” katanya kepada wartawan yang menyertai kunjungannya ke sekolah – sekolah. Mengenai kekurangan lembaran jawaban sudah diantisipasi.

Memang menurut Walikota Makassar itu, pelaksanaan UN belum sebaik apa yang diharapkan, karena kendalanya yang masih dihadapi di lapangan, masih berulang. Itu juga yang terjadi tahun – tahun lalu. Namun dia berharap Ujian Nasional mampu meningkatkan kualitas lulusan, yang dilihatnya semakin hari semakin bagus.

Apa yang disampaikan baik Walikota Makassar maupun Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, berdasarkan pemantauan tim Fajar Pendidikan ke – sekolah – sekolah mulai dari SMA/SMK sampai kepada pelaksanaan di tingkat SMP.

Seperti yang disampaikan Kepsek SMK 1 Makassar, Drs Wahab Wahabbe, tidak ada kendala dalam pelaksanaan UN. “Mungkin karena kordinasi kami yang lancar ke Dinas Pendidikan, memberikan informasi yang jelas dan berulang – ulang tentang jumlah peserta,” ucapnya.

Sekedar perbandingan, siswa SMK yang mayoritas perempuan, yang ikut UN tahun ini sebesar 319 orang. Mestinya 326 orang, tetapi tidak hadir 7 orang. SMK1 membina tiga jurusan, Akuntansi, Administrasi Perkantoran dan Penjualan. Jumlah keseluruan siswa SMKI yang dibina 69 Guru, sebesar seluruhnya 1029 orang.

Wahab optimis, hasil UN sekolahnya bisa mencapai 100 persen. Tahun lalu tingkat kelulusanya 99 persen, dari 333 siswa. Hanya 2 orang yang tidak lulus.

Rasa optimisme yang sama, disampaikan Kepsek SMA 8 , Dra Hj Masyita, MSi yang saat itu didampingi Dra Asniwati Hafied, MSi, Ka TU/Sekretaris Pelaksana UN SMA 8. Berdasar dari perkembangan UN dari tahun ke tahun di sekolah yang selalu meningkat, Masyita mentargetkan tingkat kelulusannya mencapai 90-an persen, dari 201 peserta UN. “Harapan kami 100 persen,” tuturnya. Tahun lalu, tingkat kelulusannya memang 80 persen.

Kepsek SMA Makassar Raya, Ketua MKKS SMA Swasta, Drs Fatahuddin, berifikiran lebih maju lagi. Dia tidak berfikir target kelulusan 100 persen siswanya dalam UN, namun berfikiran bagaimana siswanya bisa tembus Perguruan Tinggi. “Otomatis harus lulus UN,” katanya yang saat itu didampingi Ketua Yayasan Makassar Raya, Drs Andi Riadi Bachtiar.

Jumlah peserta UN SMA Makassar Raya tahun ini sebesar 79 orang, dengan menggunakan 5 ruangan. Mestinya 90 orang, namun 11 orang yang tidak hadir.

Menurut Fatahuddin, faktor yang ikut memperlancar pelaksanan UN tahun ini, karena Pengawas sudah mengetahui bagaimana UN berlangsung, sehigga siswa bisa bekerja dengan baik. Tidak sama dengan tahun lalu, Pengawas sampai masuk di kelas sehingga siswa jadi tegang. ‘’Kalau seperti itu, mereka tidak bisa berfikir, belum ulangan takut tidak lulus,” tutur Fatahuddin.

Pengawas independent menurut Ketua MKKS SMA Swasta itu, sudah menyadari bahwa sudah ada pengawas di kelas. Yang dipantau Pengawas Independent adalah hal – hal yang kurang beres. ‘’Kalau saya, tidak apa ujian nasional, yang penting jangan jadi penentu kelulusan. Karena ada proses belajar di kelas. Itu yang harus dihargai, satu bidang studi tidak lulus, sama saja tidak lulus. Ibaratnya satu jam menghapuskan kegiatan setahun,” tuturnya. Sehingga dia menyarankan, sebaiknya sekolahlah yang penentu kelulusan. Sebab di sekolah, ada pengembangan etika, moral,dll.

Dia pun menyarankan, Pemerintah juga ikut turun meninjau sekolah swasta terutama yang kurang memadai. Sebab sekarang, katanya, sudah tidak ada perbedaan lagi antara sekolah ‘’plat kuning’’, dengan sekolah ‘’plat merah’’.

SMA 16 Tancap Gas

Meski pelaksanaan UN berjalan lancar, Kepsek SMAN 16 Makassar, Drs Ali Muchsin, belum bisa tenang, sebelum keluar hasil UN. Sekolah yang terlatak di jantung kota Makassar, berada di titik nol kilometer itu, menelan ‘’pil’’ pahit pada UN tahun lalu. Jumlah siswanya yang tidak lulus tahun lalu lumayan besar, hampir separuh dari jumlah peserta UNnya yang sebesar 246 orang. Kejadian itu memang belum menjadi tanggung jawabnya, lantaran baru menjelang 2 tahun dipimpinnya. Sehingga Ali Muchsin tak perlu lagi menunggu waktu tiga bulan atau 6 bulan untuk menggenjot siswanya belajar. Mulai awal tahun pelajaran, siswa yang baru saja naik di kelas 3, langsung tancap gas, baru bisa pulang pada pukul 15.00, pada mata pelajaran yang di UNkan. ‘’Mulai awal tahun pelajaran jam belajar siswa, khusus untuk mata pelajaran yang di UNkan, sudah ditambah 2 jam’’, tuturnya yang saat itu didampingi Ka.TU SMA 16 Makassar.

Tahun ini jumlah peserta UN SMA 16, sebesar 464 orang, karena hampir semua yang tidak lulus tahun lalu, ikut mengulang. Ada yang sudah mendapatkan ijazah paket B, ada yang sudah kuliah, bahkan ada sudah bekerja sebagai Pramugari, tetap masih mengulang. ‘’Karena ingin mendapatkan ijazah SMA,” katanya.

Di SMKN7 Makassar, UN diawali dengan memberikan briefing kepada Pangawas. Bahkan menurut Wakasek Bidang Kurikulum SMK7, Drs Djaiman, 3 hari sebelum UN, Pengawas dikumpulkan untuk diberi sosialisasi.

Jumlah siswa SMK7 peserta UN tahun ini, sebesar 242 orang. Membina 4 jurusan, Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pekerjaan Sosial dan Rekayasa Piranti Lunak ( Tehnik Informasi Komunikasi ). Tahun lalu, tingkat kelulusannya 98 persen dari jumlah peserta 260. Yang 2 persen memang tidak ikut. SMK7 Makassar bahkan tercatat peringkat 7 Nasional untuk tingkat kelulusan UN. Padahal statusnya bukan Standar Nasional, lebih – lebih standar Internasional.

Djaiman menargetkan bisa 100 persen, seperti terjadi pada tahun lalu dan 2 tahun sebelumnya. Kepada di tahun 2009, hanya 98 persen ? ‘’Karena pengaruh standar kelulusan yang naik,” ucapnya.

Tahun ini pihaknya akan mengejar prestasi sama dengan tahun 2007 dan 2008. Karena itu, tiga bulan sebelum UN diadakan pengayaan, dan pemantapan untuk 4 mata pelajaran, yaitu, mata pelajaran Produktif, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika.

Sementara di SMA 19, yang sangat pinggiran, jumlah pesertanya 115 orang. Meski paling jauh dari kota, sekolah yang kini dipimpin Drs Rahman T, MPd, ini, tidak bisa diremehkan. Dari 120 siswa yang ikut UN tahun lalu, hanya 3 orang yang tidak lulus. Rahman berharap bisa meningkat lagi. Untuk itu, 6 bulan sebelum UN, siswanya pun belajar hingga sore.

Demikian di SMA 9. Menurut Kepsek SMA 9, Drs Iswan Abdul Latief, dengan penambahan jam pelajaran sebanyak 72 jam perminggu yang dimulai sejak Agustus 2009, banyak siswanya sakit. Ada yang muntah-muntah, demam, sakit perut, dll. Bagi Iswan, lebih baik sakit sebelumnya, dari pada di ujian tidak lulus. Namun tak seterusnya siswanya mengalami kondisi tersebut. Pihak sekolah pun ikut menjaga kesehatan siswanya, mengajari cara mandinya, memperhatikan waktu makannya.

Tahun ini, peserta UN di SMA 9 sebanyak 219. Iswan berharap seluruh siswanya bisa sukses. Tahun lalu saja yang tidak sehebat gembelengannya dengan tahun ini, tingkat kelulusannya mencapai 95 persen. Hanya 11 orang siswanya yang tidak lulus. Dia menilai pelaksanaan UN tahun ini hampir sempurnah, termasuk tidak ada kendala dengan kemacetan jalan yang menghambat anak – anak pergi ujian. ‘’Polantas subuh-subuh sudah berdiri di perempatan,” katanya.

Di Perguruan Nasional, siswa sejak awal ditanamkan untuk tidak mengejar kunci-kunci jawaban, yang kenyataannya menyesatkan. Menurut Ketua Yayasan Perguruan Nasional, Drs H.Syarifuddin Saleh, MSi, siswa ditanamkan rasa percaya diri. Sehingga saat ujian, benar-benar tenang, karena fokus menjawab soal-soal. Disini pun diadakan pendalaman 4 bulan sebelum UN. Hasil UNnya tahun lalu memang sangat baik, diatas 90-an persen. Sehingga Syarufuddin pun menargetkan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Harap UN Tetap Ada

Meskipun sempat terkendala masalah anggaran yang terlambat, namun pelaksanaan UN tingkat SMA dan SMP yang diikuti sekira 226.649 siswa yang ada di Sulsel, berjalan lancar dan aman. Pelaksanaan UN untuk tingkat SMA berlangsung dari tanggal 22-24 Maret dan untuk tingkat SMP tanggal 29 Maret-1 April. Semntara UN susulan dilaksanakan seminggu setelah jadwal yang telah ditetapkan.

Seperti UN yang berlangsung dibeberapa sekolah yang ada di Makassar, baik SMA/SMK dan SMP, di SMKN 5 Makassar, UN sempat terjadi masalah pada hari pertama akibat adanya lembar jawaban komputer(LJK) yang cacat. Akibatnya, pengawas harus bolak-balik untuk mengambil lembar LJK yang kurang di dinas pendidikan kota Makassar. Di SMK Kartika juga terjadi hal yang sama bahkan kekurangan LJK mencapai 100 lembar untuk 6 ruangan. Hal ini dikeluhkan, Drs. Muh Rum, Kepala SMK Kartika.

(UN) di sekolah kami berjalan dengan aman dan lancer, para siswa juga tenang. Hal ini karena para siswa telah dipersiapkan sejak bulan Januari lalu untuk menghadapi UN,” ujar Muh Rum.

Berbeda dengan yang terjadi di dua sekolah tersebut, pelaksanaan UN di SMAN 5 Makassar berjalan sangat lancar karena tidak ada hambatan teknis, seperti kekurangan LJK ataupun soal tertukar.

Kendati pelaksanaan teknis UN di Sulsel khususnya di Makassar tidak seluruhnya berjalan lancar, tetapi dianggap sudah sukses. Tinggal melihat hasilnya pada saat pengguman nanti. Selain itu, sejumlah sekolah yang ada di Makassar berharap, UN tetap ada untuk tahun depan. Karena mereka menganggap UN merupakan salah satu parameter siswa. “Saya berharapa UN tahun depan tetap ada, karena merupakan alat ukur secara nasional, untuk melihat standar mutu dan mampu memotivasi siswa untuk belajar,” harap Drs. HA. Abd. Fattah, M.Pd, Kepala SMAN 5 Makassar. (ana/sry/iqb)

Walikota Makassar, Ir H. Ilham Arief Sirajuddin, didampingi Kadis Pendidikan Kota Makassar, Drs H. Machmud BM, MPd, meninjau pelaksanaan UN SMU di SMA5, SMK 1 dan SMA 8 Makassar. Gambar direkam saat berada di SMK 1 Makassar.

Foto Utama

Makassar

Makassar

Suku Makassar adalah nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara’ berarti Mereka yang Bersifat Terbuka.
Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Baca tulisan ini lebih lanjut

Kementrian Kelautan Kampanyekan Gerakan Makan Ikan

Lagu ‘’Makan Ikan Setiap Hari’’, di dengung-dengungkan berulang – ulang oleh murid – murid SD dari 12 sekolah yang berada di lingkungan Kecamatan Ujungpandang, di arena Nusa Bahari Expo 2009 yang digelar oleh Kementrian Kelautan RI. Diantaranya SD Pencontohan PAM, SD Athirah, SD Kompleks Mangkura, dll.  Nusa Bahari Expo yang mewarnai Peringatan Hari Nusantara tahun 2009 yang bertemakan, ‘’, Laut sebagai ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia untuk kejayaan nusantara’’, digelar di Celebes Convention Center, Makassar, 9 – 12 Desember 2009. Agar melekat di hati para anak-anak, dan sejak anak – anak menggemari makan ikan, lagu ‘’Makan Ikan ‘’ dilombakan untuk 12 sekolah tersebut.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.